Cara Susi Sejahterakan Nelayan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. (Foto: Joko Sulistyo/Antara).

INFONAWACITA.COM – Selama Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, kesejahteraan nelayan meningkat. Tercatat sejak 2015 hingga 2017, Nilai Tukar Nelayanan (NTN) telah menyentuh angka 110,3. Sementara di 2014 hanya mencapai 102.

Kesejahteraan tersebut tentunya tidak lepas dari kebijakan-kebijakan kelautan yang dikeluarkan oleh pemilik pesawat perintis Susi Air ini. Misalnya saja, gencarnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan Satgas 115 menindak kapal asing pencuri hasil laut Indonesia. Bahkan tidak segan-segan, dibawah kepemimpinan Susi, penindakan tegas ini hingga pada persoalan peleladakan kapal asing ilegal.

Seperti dikutip dari Kumparan.com pada Rabu (26/12) total hingga tahun 2017, Susi telah berhasil menenggelamkan 317 kapal ikan asing yang tetap membandel mencuri ikan di Indonesia.

Tidak lepas dari kritik, nyatanya aksi Susi ini mendapatkan banyak penghargaan dunia. Bukan hanya itu, penindakan tegas pada kapal-kapal asing pencuri ikan ini juga ternyata membawa dampak lebih pada nelayan Indonesia.

Seperti dilansir dari Detik.com pada Senin (25/12) jumlah ikan yang bisa ditangkap di Indonesia terus naik dari 7,3 juta ton pada 2015 menjadi 9,93 juta ton pada 2016. Lalu meningkat lagi menjadi 12,54 juta ton pada 2017.

Tingkatkan Konsumsi Ikan

Bukan hanya melindungi nelayan dari penyediaan sumber daya laut. Susi juga mendorong masyarakat untuk mau makan Ikan. Lewat program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), KKP mengajak masyarakat untuk bisa mengonsumsi Ikan lebih banyak. Dibanding mengonsumsi jenis protein lainnya.

Bahkan, Susi pun turun langsung untuk mengkampanyekan gerakan memasyaratkan ikan.

“Ayo masyarakat Indonesia makan ikan, kalau tidak makan ikan saya tenggelamkan,” tagline yang melekat pada wanita 52 tahun itu.

Efek kampanye itu tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsumsi ikan di Indonesia terus meningkat. Dari 38,14 kg per kapita per tahun di 2014 menjadi 43,94 kg per kapita per tahun di 2016.

Kepedulian Susi bukan hanya memihak pada nelayan-nelayan besar. Lewat program bantuan Kapal, Susi pun ingin mengangkat derajat nelayan kecil di Indonesia. Tercatat, sebanyak 782 unit akan diserahkan KKP pada nelayan Indonesia yang berhak.

Diharapkan kapal bantuan tersebut dapat meningkatkan hasil tangkapan nelayan.

“Jadi mereka (koperasi nelayan) dengan kapal 3 gross tonnage (GT) dari Januari sampai saat ini menghasilkan pendapatan Rp 500 juta atau naiknya 50%,” jelas Saiful di gedung KKP, Jakarta, seperti dikutip dari Detik.com pada Kamis (16/11).

Kini Susi juga mengeluarkan terobosan berupa asuransi untuk nelayan. Program tersebut bernama Bantuan Presmi Asuransi Nelayan (BPAN).

Penerima program itu adalah nelayan yang memenuhi syarat dan ketentuan tertentu, yakni memiliki kartu nelayan, berusia maksimal 65 tahun, menggunakan kapal berukuran maksimal 10 gross ton, dan tidak pernah mendapatkan bantuan program asuransi dari pemerintah.

Keberlangsungan Alam

Keberlangsungan kesejahteraan nelayan juga menjari perhatian Susi. Susi sadar, keberlangsungan kesejahteraan nelayan bergantung pada kelestarian alam. Akhirnya Susi pun melarang nelayan menggunakan alat tangkap cantrang. Masalahnya, menurut Susi, alat tangkap jenis itu dapat mengancam populasi ikan.

“Kalau ditangkap terus, ikannya habis. Ya masa depan bangsa cuma slogan. Cantrang ini yang (bisa) menimbulkan konflik horizontal antarnelayan seperti zaman dulu. Makanya ada PP No 39/1980 yang melarang trawl beroperasi. Sebabnya karena banyak kapal trawl dibakari masyarakat,” kata Susi seperti dikutip dari Detik.com pada Kamis (27/4). (DS/zh)