Bola Panas Perundungan Terhadap Bowo ‘Seleb’ Tik Tok, Ananda Sukarlan Tegaskan Ini

Ananda Sukarlan. (Foto: Twitter/Ananda Sukarlan)
Ananda Sukarlan. (Foto: Twitter/Ananda Sukarlan)

INFONAWACITA.COM – Perundungan atas salah satu ‘seleb’ Tik Tok, Bowo, berubah menjadi bola panas dan liar di masyarakat. Terlebih lagi pasca pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menutup aplikasi itu. Masih maraknya perundungan terhadap Bowo yang berusia muda itu, mendapat perhatian dari musisi Ananda Sukarlan.

“Teman-teman, mohon jangan bully si Bowo ya,” pinta Ananda seperti dikutip dari akun twitternya pada Rabu (4/7/2018).

Bukan sekadar meminta agar masyarakat menghentikan perundungan, Ananda juga menegaskan bahwa efek perundungan itu sangat destruktif.

“Efek bullying di usia muda, tuh, sangat destruktif untuk kelanjutan hidupnya,” tegas Ananda.

Bahkan ia juga menyampaikan bahwa dirinya pernah menuliskan efek destruktif dari setiap perundungan. Berdasarkan pengalaman pribadinya.

“Aku pernah nulis, nih, di sini. Tolong Di RT ya…” ujar salah satu musisi berbakat tanah air ini.

Pantauan Infonawacita.com, Ananda menuliskan pengalamannya saat mengalami perundungan di blog pribadinya. Berjudul ‘Tentang Bullying dan Being Bullied’.

Seperti apa isinya? Berikut ini tulisan Ananda yang diunggah pada Selasa (19/6/2018). Dengan berbagai perbaikan tanda baca tapi tanpa mengubah esensi tulisan.

Tentang Bullying dan Being Bullied

Sejak wawancara wartawan terkemuka Desi Anwar dengan saya di Metro TV tahun 2012, dimana saya membuka diri sebagai pengidap Tourette & Asperger’s Syndrome, banyak orang tua telah mengirim pertanyaan ke saya. Tentang kemungkinan anak mereka mengidap sindrom yang sama.

Sejak itu, saya telah bertemu puluhan orangtua beserta anaknya, dimana saya bisa bertukar pikiran dan pengalaman. Saya bukan ahli autisme dan Asperger’s Syndrome karena sindrom itu sangat komplek. Jadi mereka dan saya sama-sama belajar dari tukar pengalaman ini.

Ada satu hal yang menjadi satu paket dengan sindrome di atas, yaitu “bullying” (“perundungan” adalah istilah yang baru saya temukan dari berita di Media Indonesia) dari teman-teman sekelas mereka. Siapapun pengidap sindrom dari spektrum autisme pasti akan dianggap “aneh”. Sehingga menjadi sasaran empuk untuk perundungan.

Merundung dan dirundung adalah bentuk pelecehan yang menoreh luka yang mendalam pada jiwa seseorang. Banyak anak-anak bahkan teman masa kecil yang telah menjadi dewasa masih suka bermimpi buruk. Baik sebagai korban ataupun keinginan untuk merundung seseorang sebagai sarana untuk menunjukkan superioritas mereka dalam situasi yang dirasakan menuntut mereka yang berasal dari rasa rendah diri mereka.

Saya baru tahu setelah saya lulus sekolah bahwa para perundung juga mengalami penderitaan. Sehingga mereka butuh melakukannya. Itu sebabnya saya memaafkan mereka yang telah melakukannya ke saya waktu saya masih kecil/remaja.

Bahkan saya melihat banyak kasus, korban perundungan (yang ‘survive’ tentu saja) bisa lebih tegar dalam meniti karir dan kehidupan kita. Sehingga kelihatannya banyak yang lebih sukses. Paling tidak, saya melihat mereka yang dulu melakukannya ke saya, ada beberapa yang ternyata tidak terlalu sukses. Paling tidak dalam karir mereka.

Tidak ada yang bisa terbiasa atau menyesuaikan diri dengan baik memori perundungan ini dalam kehidupan dewasa. Trauma dan efeknya tetap bersama kita selamanya. Namun, saya percaya, kita bisa dengan tulus dan penuh kasih membantu seorang perundung atau korban perundungan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Bukan dengan melecehkan atau menghakiminya. Tetapi dengan mendengarkan keluhan mereka dan menerima cerita mereka dengan apa adanya.

Memang hal itu tidak akan secara instan “menyembuhkannya”. Tapi cara kita itu diharapkan akan membantu mereka mengurangi (bukan melupakan, karena itu hal yang mustahil) trauma atas apa yang terjadi pada mereka. Dan membuat memori kejadian itu menjadi tidak terlalu menyakitkan dalam kenangan mereka.

Jika seseorang terus menerus menjadi korban, ia akan dipenuhi rasa malu atau rendah diri. Jika ia (terlalu) sensitif, rasa malu itu akan membuatnya menyalahkan dan akhirnya menyerang diri mereka sendiri, bahkan sampai bunuh diri.

Jadi, bahkan jika anda tidak menyadarinya, perundung di masa kanak-kanak telah mengubah hidup mereka yang jadi korbannya … dari karier hingga hubungan antar manusia sampai usia lanjut, bahkan selamanya.