Beras Lampung Timur Sumbang 13,4 persen Produksi Beras Provinsi Lampung

Seorang pekerja memanggul karung beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (24/11). Harga beras kualitas medium keatas naik sebesar Rp300 - Rp400 per kilogram sedangkan beras kualitas medium kebawah meningkat Rp400 - Rp500 per kilogram karena tingginya permintaan menjelang musim paceklik. ANTARA FOTO/OJT/AGITA TARIGAN/wsj/ama/14

INFONAWACITA.COM – Produksi padi di Kabupaten Lampung Timur pada 2017 diperkirakan mencapai 591.000 ton atau 13,43 persen dari target produksi padi Provinsi Lampung.

“Kami yakin produksi padi itu dapat terpenuhi,” kata Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, di Lampung Timur, Sabtu (11/11).

Ia menjelaskan, hingga akhir musim tanam 2017, capaian luas tanaman padi di Kabupaten Lampung Timur seluas 127.546 hektare.

Menurutnya, Kabupaten Lampung Timur mempunyai potensi di bidang pertanian yang cukup besar, baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Kabupaten Lampung Timur, lanjutnya, mempunyai potensi lahan seluas 213.384 ha yang terdiri atas lahan sawah seluas 60.518 ha dan lahan kering seluas 152.866 ha diusahakan oleh sebanyak 5.645 kelompok tani.

Nunik panggilan akrab Bupati Lampung Timur itu menjelaskan, arah pembangunan pertanian di daerah setempat ke depan adalah dengan mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan serta diversifikasi dan peningkatan kualitas produk pertanian.

“Terpenting dari semua itu adalah kesejahteraan petani dapat terwujud. Percuma kita swasembada pangan jika kesejahteraan petani tidak meningkat,” ujarnya pula.

Sebelumnya, pada acara panen padi di Desa Mandala Sari, Kecamatan Mataram Baru, Kabupaten Lampung Timur, Jumat (10/11), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa Indonesia akan menggaungkan swasembada pangan komoditas beras, jagung dan bawang.

“Dulu kita ragu bisa swasembada pangan tapi kita bisa gaungkan swasembada beras, cabai, jagung, dan bawang dalam waktu bersamaan,” katanya lagi.

Menurutnya, capaian swasembada pangan adalah berkat kerja semua pihak seperti TNI, Polri, para penyuluh pertanian, petani dan pemerintah. Dia pun mengapresiasi para penyuluh pertanian yang terus membantu para petani.

Amran juga mengatakan sebelumnya Indonesia mengimpor pangan seperti jagung dan bawang setiap tahunnya, namun saat ini tidak ada lagi impor.

Impor jagung dan bawang, lanjutnya, bisa mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya, namun sekarang tidak ada lagi impor komoditas tersebut.

Belajar Pertanian

Berkat capaian swasembada pangan itu, menurut dia, sekarang Indonesia menjadi incaran negara luar untuk belajar pertanian.

“Saya baru pulang dari Thailand dan Malaysia, mereka bertanya kepada kita apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Sekarang mereka ingin belajar kepada kita,” ujar Mentan Andi.

Malaysia, menurutnya, masih mengimpor jagung dari Amerika Serikat.

Sehingga negara tetangga itu akan berupaya meniru upaya Indonesia yang mampu memproduksi jagung cukup besar dan tak lagi impor.

“Mereka akan membuka lahan pertanian jagung di dekat perbatasan Tanah Air,” katanya lagi. (ANT/HG)