Begini Upaya Pemerintah untuk Bisa Menyediakan Harga Listrik yang Terjangkau

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap, Sulawesi Selatan. (foto: Kementerian ESDM)
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap, Sulawesi Selatan. (foto: Kementerian ESDM)

INFONAWACITA.COM – Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK), terus berusaha untuk bisa menyediakan harga listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Salah satunya dengan mendorong kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah berupaya agar pengeluaran untuk subsidi energi bisa dialihkan untuk penggunaan yang lebih produktif. Misalnya saja pembangunan infrastruktur.

“Kami mengupayakan agar tarif listrik tidak naik. Kita jaga dan mengantisipasi agar BPP listrik tidak membengkak yang dampaknya berpotensi meningkatkan tarif listrik. Subsidi energi kan tidak tak terbatas. Pemanfaatan subsidi lebih bijak, dialihkan ke belanja produktif seperti infastruktur, pendidikan dan kesehatan. Visi ESDM juga menjaga daya beli masyarakat,” ungkap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi dalam keterangan resminya pada Minggu (27/5/2018).

Oleh karenanya, kata Agung, Kementerian ESDM juga tetap menjaga agar investasi EBT kondusif. Sebanyak 14 regulasi/perizinan bidang EBT telah dipangkas.

“Perizinan telah kita pangkas Maret kemarin. Investasi EBT tahun lalu sebesar US$1,3 miliar dan ditargetkan meningkat menjadi US$2 miliar tahun ini. Realisasi penerimaan negara dari EBT tahun 2017 sekitar Rp900 miliar, melebihi target APBN yang sekitar Rp700 miliar. Kita tetap berupaya agar investasi EBT menarik. Kita akomodatif, dan menjaga kepentingan rakyat lemah agar tarif listrik tidak naik,” tambah Agung.

Kontrak EBT Tertinggi Sepanjang Sejarah

Tahun 2017 tercatat kontrak EBT sebanyak 70 kontrak atau lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya 14 kontrak. Realisasi dari kontrak tersebut yaitu 3 kontrak telah beroperasi dan 22 kontrak sedang tahap konstruksi. Selebihnya masih tahap persiapan dan mencari pendanaan.

“Sudah 22 perusahaan EBT dalam tahap konstruksi. Bahkan ada lagi 3 perusahaan EBT yang telah beroperasi. Kami berharap, 25 perusahaan tersebut dapat menjadi contoh atau role model bagi yang lain, agar kita sama-sama bisa akselerasi pembangunan EBT nasional. Pemerintah juga terus fasilitasi untuk mendapatkan pendanaan yang menarik, sudah beberapa kali difasilitasi,” pungkas Agung. (DS/zh)