Begini Cerita Lengkap Kadensus 99 Banser NU Undur Diri Jadi Kader Gerindra, Terkait Cuitan Fadli Zon

Kadensus 99 Banser NU yang juga kader dari Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman. (Foto: Twitter/Noeruzzaman)
Kadensus 99 Banser NU yang juga kader dari Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman. (Foto: Twitter/Noeruzzaman)

INFONAWACITA.COM – Pengunduran diri salah satu kader Gerindra Mohammad Nuruzzaman ramai menjadi perbincangan. Sebabnya karena pengunduran diri Nuruzzaman yang juga Kadensus 99 Banser NU itu disebut terkait dengan cuitan dari Fadli Zon yang dianggap telah menghina Yahya Cholil Staquf. Serta dianggap juga telah mempolitisir kehadiran Yahya Cholil Staquf ke Israel beberapa hari kemarin.

“Ya betul, saya mundur dari Gerindra,” jelas Nuruzzaman.

Pengunduran dirinya itu juga tersebar di berbagai grup aplikasi pesan dan diterima juga oleh Infonawacita.com. Ia juga menyampaikannya melalui surat terbuka kepada Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Nuruzzaman mengaku sudah sangat lama ingin keluar dari Gerindra. Tapi kemudian, cuitan Fadli Zon soal Yahya Staquf yang kemudian membuat ‘gunung’ kemarahannya meletus.

‘Pak Fadli, nih, menghina kiai kami,” ucapnya.

Sementara itu, seperti dikutip dari detik.com, Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membenarkan Nuruzzaman merupakan kader Gerindra. Dasco mengatakan, surat pengunduran diri tersebut belum diterima Gerindra.

“Yang bersangkutan pengurus nonaktif. Sangat jarang ikut kegiatan partai,” ucap Dasco.

Cuitan Fadli Zon

Penelusuran Infonawacita.com, peristiwa itu bermula dari cuitan Fadli Zon di akun twitternya. Saat itu, Fadli menyeret kehadiran Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Cholil Staquf di Israel.

“Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini memalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. Cuma (dilanjutkan dengan tagar-red) 2019GantiPresiden,” ciut Fadli.

Tanggapan gambar cuitan Fadli Zon yang menyeret Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Cholil Staquf. (Foto: Istimewa)
Tanggapan gambar cuitan Fadli Zon yang menyeret Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Cholil Staquf. (Foto: Istimewa)

Atas cuitan itu, seperti dikutip pada Rabu (13/6/2018), Nurruzaman sempat membalas di kolom reply dari akun Fadli Zon.

“Selama ini saya diam dan tidak pernah berkomentar apapun soal @Gerindra @prabowo dan @fadlizon karena saya pernah nyalon DPR RI lewat Gerindra tahun 2014. Tapi hari ini saya akan siap bertarung menggembosi @Gerindra krn kelakuan @fadlizon cc: @GPAnsor_Satu @mantriss @GunRomli @qitmr,” yang diunggah pada Senin (11/6/2018).

Lalu pada Selasa (12/6/2018) malam, Kadensus 99 Banser NU yang juga Kader Gerindra itu mengajukan pengunduran dirinya.

Begini isi surat lengkapnya:

Kepada Yth,
Bapak Prabowo Subianto
Ketua Umum DPP Partai Gerindra
yang saya banggakan

Dengan hormat,

Melalui surat ini saya akan sampaikan hal yang pribadi terkait posisi saya sebagai kader dan juga pandangan umum yang saya dapatkan ketika melakukan turlap yang berhubungan dengan isu dan hal strategis terkait Partai Gerindra.

Pertama, perlu saya sampaikan kepada Bapak bahwa saya bergabung dengan Gerindra pada medio 2014, tepat di masa pertarungan Pilpres. Dan saya berbangga hati bisa mengawal Bapak di perhelatan akbar Pilpres melawan Bapak Joko Widodo.

Hal utama dan terutama yang melatarbelakangi saya mendukung Bapak adalah jiwa kepedulian dan keberanian. Dua hal itu adalah napas saya untuk berjuang bersama Gerindra. Karena karakter kita sama maka saya merasa berada di rel perjuangan yang benar.

Saya juga pernah mencalonkan diri sebagai Caleg pada tahun yang sama, 2014 dan saya masuk di kepengurusan Partai Gerindra walau jarang diundang mengikuti rapat. Tidak terlalu masalah bagi saya karena selama Bapak yang pimpin saya pertaruhkan kepercayaan saya dan ikhtiar saya ke Gerindra.

Bahkan saya masih bangga walau Bapak kalah, tapi muka dan dada Bapak tidak menunjukkan kekalahan sebab Bapak adalah pemenang bagi saya.

Waktu pun berjalan. Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar KEPENTINGAN SAJA! Mark my words Pak Prabowo.

Manuver Gerindra yang sangat patriotik sekarang lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politis busuk yang hanya berkutat pada kepentingan saja, sama sekali hilang INDONESIA RAYA yang ada di dada setiap kader Gerindra.

Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitnya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat.

Isu SARA yang sudah melampaui batas dan meletakkan Jakarta sebagai kota paling intoleran adalah karena kontribusi elit Gerindra yang semua haus kekuasaan dunia saja, tanpa mau lagi peduli pada rakyat di mana Bapak harusnya berpijak.

Saya adalah santri yang berjuang berdasarkan platform kepedulian dan keberanian. Garis yang sama seperti saya kenal Bapak di awal yang kemudian saya kecewa karena Bapak sudah makin tuli untuk mendengar kami yang masih ingin berjuang demi Indonesia melalui Partai Gerindra.

Oleh sebab itu, saya sudah berfikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontibusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodir. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas.

Kadensus 99 Banser NU yang juga kader dari Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman bersama surat pengunduran dirinya. (Foto: Twitter/Noeruzzaman)
Kadensus 99 Banser NU yang juga kader dari Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman bersama surat pengunduran dirinya. (Foto: Twitter/Noeruzzaman)

Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah.

Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden.

Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah, sesuatu yang Pak Prabowo tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja.

Akhir kata, saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun.

Semoga Bapak selalu sehat.

Cirebon, Selasa, 12 Juni 2018

Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq
Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mohammad Nuruzzaman
Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra