5 Potensi Gangguan Pilkada 2018 yang Sudah Dipetakan Polri

foto: balapatti.com

INFONAWACITA.COM – Kepolisian Republik Indonesia sudah menyiapkan strategi menjaga perhelatan pesta demokrasi Pilkada serentak 2018. Strategi yang disiapkan Polri merupakan hasil dari evaluasi pada Pilkada serentak 2017 lalu.

Kabag Renops Sops Polri, Kombes Pol. Drs. Edi Setio Budi Santoso menjelaskan, Polri berangkat dari beberapa potensi kericuhan Pilkada pada tahun 2017 silam. Data itu juga mengindikasikan akan berpotensi muncul juga di tahun 2018.

Berikut Infonawacita.com rangkum 5 kericuhan Pilkada 2017 yang tercatat.

Ilustrasi penganiayaan. (Foto: penasumatera.co.id)
Penganiayaan

Pada tahun 2017, kata Dedy, telah terjadi penganiyaan saat penyelenggaraan pesta demokrasi di sejumlah daerah. Daerah tersebut yakni Aceh dan Papua. Sedangkan yang menjadi korbannya ialah anggota PPS, Komisioner KPU, Asisten Kab dan Paslon. Oleh karena itu, kini Polri sudah menyiapkan strategi dalam penanggulangan hal tersebut agar tidak terjadi di tahun 2018.

Ilustrasi Teror di Dunia Maya. (Foto: net.z)
Teror Dunia Maya

Tidak dapat dipungkiri kata Edi, perkembangan teknologi juga menggeser ancaman-ancaman kerawanan Pilkada. Yakni adanya teror-teror di dunia maya. Pada tahun 2017 lalu, kata Edi, Pilkada DKI Jakartalah yang mengalami masalah tersebut. Berita hoaks untuk menjatuhkan para Paslon sangat masif di dunia maya. Sehingga saat ini, untuk mencegahnya, Polri pun sudah menggandeng beberapa pihak untuk mencegah hal tersebut terulang.

Ilustrasi Perusakan. (Foto: Shutterstock)
Perusakan

Pada tahun 2017 lalu, tercatat beberapa posko partai politik dan kantor partai politik dirusak oleh massa. Kejadian ini terjadi pada Pilkada di Aceh pada tahun 2017 lalu. Polri juga sudah mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan penjagaan di kantor-kantor Parpol di tahun 2018 ini.

Ilustrasi Penembakan, (Foto: Shutterstock)
Penembakan Sebagai Bentuk Teror

Pada potensi kerawanan ini, kata Edi, terjadi di 3 wilayah sekaligus yakni Aceh, Papua dan DKI Jakarta. Sasarannya saat itu ialah rumah Paslon, Simpatisan Parpol dan rumah anggota DPRD. Bersama dengan TNI, kali ini Polri akan lebih optimis bisa meminimalisir kejadian-kejadian tersebut.

Ilustrasi Bentrok. (Foto: okezone.com)
Bentrok Antar Warga dan Pemalangan jalan

Jika yang satu ini, kata Edi, merupakan style yang biasa terjadi di Papua ketika Pilkada berlangsung. Biasanya, jelas Edi, bentrok dilakukan oleh pendukung antar Paslon. Selain itu diduga juga akan terjadi penghalangan jalan lintas provinsi dan Kabupaten Kota. Polri pun sudah menyiapkan strategi untuk mencegah hal tersebut terulang lagi. (DS/zh)