5 Kesenian Jabar Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Berikut Daftarnya

Ilustrasi (Foto: republika.co.id)

INFONAWACITA.COM – Lima kesenian Jabar ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Penetapan beragam budaya tersebut menggenapkan 150 kearifan lokal lainnya dari seluruh daerah se-Indonesia yang ditetapkan sebagai WBTB.

Total WBTB nasional yang ada saat ini mencapai 594 jenis. Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan, penetapan WBTB melibatkan tim ahli yang melakukan seleksi dan verifikasi selama tak kurang dari 6 bulan. Berikut lima kesenian dari Jawa Barat yang ditetapkan pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional 2017:

Seni pertunjukan Gembyung (Foto: kompas.id)

Kesenian Gembyung: adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernapaskan Islam. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet.

Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan. Gembyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat seperti pesta khitanan dan perkawinan atau acara hiburan lainnya dan juga digunakan untuk upacara adat. Dalam perkembangannya saat ini, gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.

 

Iket Sunda (Foto: ayogitabisa.com)

Kerajinan Tradisional Iket Sunda: Iket atau totopong (Sunda) atau udeng (Bali) adalah penutup kepala dari kain merupakan bagian dari kelengkapan sehari-hari pria di pulau Jawa dan Bali, sejak masa silam sampai sekitar awal tahun 1900-an. Di Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda, tutup kepala yang dibuat dari kain dikenal dengan sebutan iket atau totopong atau udeng, semuanya adalah pelindung kepala yang berfungsi sebagai kelengkapan berbusana.

Pada zaman dahulu iket juga mencerminkan kelas dalam masyarakat, hingga tampak jelas perbedaan kedudukan seseorang (pria) dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu iket Sunda juga sebagai bagian dari kelengkapan berbusana yang digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan budaya yang dikaitkan dengan nilai budaya, adat istiadat serta pandangan hidup masyarakat.

 

Kolecer (Foto: idnewscorner.com)

Kolecer: Kolecer adalah sebuah mainan tradisional yang dalam bahasa Indonesia artinya kincir angin. Permainan ini dibuat dengan alat dan bahan-bahan sederhana seperti kayu, bambu, karet. Permainan ini sudah jarang ada. Untuk melestarikannya, beberapa pihak menggelar festival kolecer.

 

Leuit (Foto: mongabay.co.id)

Leuit : adalah lumbung padi. Bangunan tradisional di Sunda yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian. Di Sunda, konon leuit sudah ada sebelum masyarakat mengenal pertanian sawah, atau masih menggunakan ladang (huma). Leuit dimiliki setiap masyarakat pertanian di Sunda dan keberadaannya pun tak lepas dari mitos-mitos, seperti mitos Dewi Sri, sebagai Dewi Padi.

 

Nyangku (Foto: kawalitv.com)

Nyangku : berasal dari kata yanko (Bahasa Arab) yang artinya membersihkan. Namun kemudian berubah pelafalannya menjadi Nyangku. Nyangku berarti nyaangan laku (Bahasa Sunda) yaitu menerangi perilaku. Upacara adat nyangku merupakan upacara adat yang telah ada sejak jaman Kerajaan Panjalu.

Hingga kini upacara tersebut secara rutin dilaksanakan tiap tahun oleh masyarakat Panjalu, karena masyarakat Panjalu menganggap upacara adat tersebut memiliki nilai-nilai yang baik bagi kehidupan mereka, di samping melestarikan tradisi warisan leluhur.

Upacara Nyangku dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora sebagai Raja Panjalu yang memeluk agama Islam dan menyebarkan agama Islam di Panjalu. Upacara Adat Nyangku adalah rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja, serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian “Bumi Alit”.(AR)