Usai Jokowi Lontarkan Penyelesaian Krisis Kemanusiaan di Myanmar, AS Ingin Berkontribusi

Menlu AS Rex W. Tillerson bertemu dengan Menlu RI Retno Marsudi di Manila, Filipina pada Selasa (14/11). Pertemuan tersebut untuk membahas penyelesaian konflik yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar (foto: Setkab.go.id)

INFONAWACITA.COM – Usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat isu krisis kemanusiaan Myanmar di KTT ASEAN yang ke-31 di Manila, Filipina pada Senin (13/11), Amerika Serikat pun langsung tertarik untuk ikut berdiskusi dengan Indonesia dalam penyelesaian konflik yang menimpa etnis Rohingya tersebut.

Seperti dikutip dari Setkab.go.id Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Rex W. Tillerson secara mendadak menemui Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Retno Marsudi di Hotel Sofitel, Manila, Filipina, di sela-sela kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang digelar di Philippines International Convention Center (PICC), Selasa (14/11) siang.

“Beliau akan segera berkunjung ke Nay Pyi Taw, Myanmar, besok. Jadi ke sini untuk bertukar informasi mengenai kondisi sekarang ini di Myanmar,” kata Menlu kepada wartawan, di lobi Hotel Sofitel, Manila, Selasa (14/11) siang.

Amerika Tertarik Berkontribusi

Pada pertemuan tersebut, ternyata Amerika Serikat tertarik untuk ikut membantu penyelesaian krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar, secara konstruktif. Hal ini karena sepemahaman dengan Indonesia, menurut AS jika krisis tersebut tidak dapat diselesaikan selain akan mengganggu stabilitas dan keamanan kawasan, juga ada kekhawatiran ancaman radikalisme dan terorisme akan meningkat.

Kunjungan ke Myanmar itu, menurut Menlu Retno, akan dibahas upaya yang bisa dilakukan Amerika Serikat dalam membantu menyelesaikan krisis di Rakhine State.

Sementara itu, Menlu AS Rex W. Tillerson menilai, peran dari kawasan dalam hal ini ASEAN sangat penting.

Ia juga mengapresiasi peran Indonesia, dan AS juga masih mengharapkan peran Indonesia dapat terus meningkat dalam upaya menyelesaikan krisis tersebut.

“Intinya itu pembicaraan dalam pertemuan tadi. Kita janji akan berkomunikasi kembali setelah Rex kembali dari Nay Pyi Taw,” jelas Menlu seraya menekankan, bahwa AS ingin membantu penyelesaian krisis di Rakhine State tetapi juga harus ada progress.

Senada dengan Menlu Retno, Rex menilai bahwa semakin lama krisis di Rakhine State tidak diselesaikan, dampaknya akan mengganggu stabilitas dan keamanan di kawasan. (*/DS/yi)