PP No.1/2017 Jadi Momentum Indonesia untuk Mandiri

Oleh. M Yamin – Ketua Umum Seknas JOKOWI

INFONAWACITA.COM – Seknas JOKOWI sangat mengapresiasi lahirnya PP No. 1 thn 2017 beserta Peraturan Menteri turunannya, yaitu Permen No. 5 dan No. 6 thn 2017 tentang memberi kelonggaran ekspor mineral mentah yang dimurnikan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Presiden Jokowi sekali lagi menunjukkan jati dirinya sebagai Kepala Negara yg secara sungguh-sungguh menegakkan kedaulatan negara dalam pengelolaan sumber daya alam. Kecerdasan dan ketegasan Presiden Jokowi diimplementasikan oleh Ignasius Jonan Menteri ESDM dan Wakilnya Arcandra dalam PP No.1/2017 yang diikuti dengan lahirnya Permen No.5 dan No.6/2017 mengenai ekspor dan pemurnian Minerba. Ini adalah kebijakan yang sangat ditunggu pengusaha tambang yang sudah lama tidak bisa mengembangkan usaha ekspor Minerba.

Jonan adalah seorang CEO yang sudah teruji prestasinya ketika menjadi Dirut KAI dan konsiten sebagai sosok yang berani mengambil keputusan ketika menjadi Menteri Perhubungan. Tak salah Presiden Jokowi menugaskannya di ESDM berpasangan dengan Archandra.
Bagi Yamin, jelas bahwa tujuan diterbitkannya PP ini adalah selain membuat negara lebih berdaulat, adalah juga untuk menciptakan lapangan kerja, mendukung pertumbuhan ekonomi terutama di daerah dan menyegarkan iklim investasi. Dan yang terpenting Indonesia sedang berusaha menuju kemandirian ekonomi sebagaimana Tri Sakti dan Nawacita.

Bagi Seknas JOKOWI kelonggaran ekspor mineral mentah dengan beberapa persyaratan sebagaimana yang diumumkan Menteri ESDM Ignasius Johan dengan tiga persyatan yang harus dipenuhi agar perusahaan tambang dapat mengekspor mineral dalam bentuk konsentrat adalah ide yang cerdas.

Pertama, perusahaan tambang yang memiliki Kontrak Karya (KK) harus mengubah izinnya menjadi IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) jika ingin mengekspor dalam bentuk konsentrat mineral. IUPK berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang, maksimal sebanyak dua kali. Apakah ini wajib? Tidak wajib. Kalau mau Kontrak Karya terus, tidak apa-apa. Bila ingin ekspor produksi yang sudah dilakukan pemurnian, tidak ada masalah.

Kedua, perusahaan tambang yang memiliki IUPK “wajib membangun smelter” dalam waktu lima tahun. Pemerintah akan melakukan evaluasi setiap enam bulan untuk memeriksa perkembangan pembangunan smelter. Bila tidak membuat, maka dicabut rekomendasi ekspornya.

Ketiga, perusahaan tambang juga wajib melakukan divestasi hingga 51% secara bertahap dalam waktu sepuluh tahun. Kepemilikan pemerintah dengan divestasi 51% sehingga (sesuai dengan) semangat konstitusi yang mengamanatkan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.(AR)