Pemerintah Berkomitmen Kejar Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. foto: tirto

INFONAWACITA.COM – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan Indonesia berkomitmen untuk memenuhi target penurunan emisi gas dengan 23 persen bauran energi sektor energi.

“Presiden pesan agar kita tetap bisa memenuhi target 23 persen penurunan emisi. Karena itu kita harus melakukan aksi nyata, bukan hanya ngomong saja, atau wacana saja,” Ujar Menko Luhut di Bonn, Jerman, Selasa (14/11).

Menko Luhut menyampaikan hal itu jadi prioritas pemerintah yang bersama 195 negara lainnya telah berkomitmen untuk memenuhi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tahun lalu dalam acara United Nations Framework Convention on Climate Change-Conference of the Parties 23/UNFCCC-COP 23.

Ia mengatakan pemerintah Indonesia sudah melakukan banyak kerja sama dalam hal energi dengan sejumlah negara di dunia.

“Kita sudah melakukan banyak kerja sama di bidang energi terbarukan, seperti energi matahari dan angin, mengurangi sampah plastik di laut dengan memproduksi aspal dari plastik kresek dan kita juga aktif melakukan pengurangan penggunaan plastik kresek dengan menciptakan alternatif tas plastik dari bahan ramah lingkungan seperti dari singkong atau rumput laut,” tambahnya.

Luhut menambahkan sebagai salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim, serta sebagai negara yang memiliki posisi dan kontribusi penting dalam mitigasi perubahan iklim, kerja sama yang sudah dilakukan sejauh ini dengan pemerintah negara lain.

Tiga Syarat Yang Harus Dipenuhi

Ia menerangkan bahwa kerja sama dengan luar negeri itu mengharuskan adanya tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu pertama adalah masalah lingkungan, teknologi yang digunakan harus ramah lingkungan.

Kedua harus ada transfer teknologi dengan itu dia harus melatih orang Indonesia agar cepat beradaptasi dengan teknologi tersebut dan yang ketiga harus membangun dari hulu ke hilir agar ada nilai tambah.

“Hilirisasi penting karena mempunyai nilai tambah, kalau sudah dipenuhi syarat-syarat tersebut, tidak perlu lagi melihat dari negara mana dana itu datang,” tegasnya.

Menko Luhut menghimbau negara maju untuk membantu Indonesia dalam upaya memperkecil efek perubahan iklam.

“Indonesia memiliki ekosistem mangrove atau hutan bakau sebesar 3,1 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove dunia yang menyumbang oksigen ke dunia. Jadi kalau negara maju punya teknologi (pelestarian dan pengembangan mangrove), sebaiknya dibagi juga kepada Indonesia,” ucapnya. (ANT/HG)