Menkeu: Regulasi Tak Boleh Hambat Kreativitas Bisnis Start-Up

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Kemenkeu dok)

INFONAWACITA.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, regulasi tidak boleh menghambat kreativitas bisnis start-up, karena hal itu merupakan aset yang mampu menggerakkan perekonomian Indonesia.

Hal ini disampaikan Menkeu dalam Seminar Utama Hari Oeang dengan tema “2030 : Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10), seperti dilansir dari laman resmi Kementerian Keuangan.

“Generasi millenial punya tiga karakter, yaitu 3C, Connected, Confidence dan Creative. Kalau dalam tiga hal ini apabila dikurung dengan regulasi yang menghilangkan tiga karakter ini maka pemerintah mendzolimi. 3C harus menjadi aset bukan disaster,” ungkap Menkeu.

Menkeu menambahkan, jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi, maka Indonesia harus merubah salah satu pencarian pendapatannya dari Sumber Daya Alam (SDA) menuju ke investasi manusia (SDM).

“Sejak Orde Baru, perekonomian banyak di-drive oleh komoditi. Untuk bisa menjadi negara besar, di tahun 2030-2045 harus mampu mentransformasi dari natural resource ke human resource,” jelasnya.

Menurut Menkeu, negara harus bisa menciptakan aset dalam bentuk kreativitas produksi dengan membangun SDM, infrastruktur dan konektivitas.

“Republik bisa menciptakan aset-aset dalam bentuk kreativitas production dan aktivitas ekonomi sehingga masyarakat sejahtera dan adil. Republik ini harus memastikan hak anak Indonesia, oleh karena itu fokus APBN memberikan kesempatan yang sama dan investasi SDM yaitu kesehatan, pengentasan kemiskinan. Bukan karena ini kebijakan populis. Kedua, tidak mungkin investasi human capital dibangun kalau infrastruktur tidak dibangun seperti jalan, seaport, airport dan koneksi. Konektivitas adalah necessary condition agar 3C menjadi aset. Ketiga, APBN memberikan keberpihakan. Mencari titik di mana digital economy bisa berkembang tapi masih ada konvensional economy,” paparnya.(AR/*)