Ketika Segalanya Berasal dari Hati Nurani, Langgeng Jadi Kekal

Presiden Joko Widodo mengunjungi lokasi longsor di Dukuh Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu, 14 Desember 2014. Dengan pengawalan yang tidak terlalu ketat, Jokowi terjun langsung ke lokasi pencarian korban, membaur dengan para relawan, tentara, dan polisi yang tengah sibuk mencari korban. (foto: Tempo.co)

INFONAWACITA.COM – Namanya Langgeng Widodo. Seorang kepala keluarga. Ia menjadi istimewa bukan karena posisinya sekadar menjadi tenaga harian lepas (THL) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara saja. Kontribusinya kepada masyarakat sekitar yang menjadikan aksinya begitu langgeng.

“Kami baru akan makan setelah para pengungsi di lokasi bencana makan. Kami mendahulukan keselamatan masyarakat. Kami jarang mengeluh sakit. Kalau benar-benar sudah terkapar, baru kami istirahat,” katanya seperti dikutip dari Antara pada Senin (13/11/2017).

Langgeng merupakan bagian dari tim reaksi cepat, bidang kedaruratan dan logistik untuk menangani kebencanaan, khususnya di Kabupaten Banjarnegara. Maka menjadi bagian dalam upaya penanganan bencana, merupakan muara dari kecintaannya kepada lingkungan dan juga kepada sesama.

Menolong sesama, menurut Langgeng, merupakan panggilan hati yang datang dari nurani. Selain itu, menjadikan dirinya manusia yang lebih disiplin dan tangguh, serta membuatnya menjadi lebih merasa bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut dia, jiwa sukarelawan tidak bisa diukur dengan materi. Jiwa sukarelawan berarti juga rela berbuat kebaikan bagi mereka yang membutuhkan, bahkan terkadang kerelaan itu ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.

Bermula tahun 2014

Itu semua ia rasakan sendiri. Dengan mata yang menerawang, Langgeng membagikan cerita yang selalu ia kenang beberapa tahun silam. Tepatnya pada tahun 2014, saat terjadi bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara.

Langgeng ada di sana. Dia menjadi bagian dari tim reaksi cepat penanganan longsor Jemblung. Pada saat yang sama, anak perempuannya tengah menderita sakit campak, badannya panas dan dirawat di rumah sakit selama 5 hari.

Sebagai seorang ayah, dia merasa sangat dilema karena harus memilih menjaga anak di rumah sakit atau tetap bertahan di lokasi bencana. Saat itu, kondisi masih rawan karena intensitas hujan masih sangat tinggi, longsor susulan bisa terjadi kapan saja.

Di waktu yang bersamaan, dirinya diberi amanah sebagai koordinator dari posko lapangan yang harus bertanggung jawab mengelola posko pada masa transisi menuju pascabencana. Langgeng lebih memilih menjaga masyarakat.

Ia akhirnya membiarkan sang istri berjuang sendirian mengurus anaknya selama dirawat di rumah sakit. Dia memilih untuk tetap tinggal di lokasi bencana. Hanya doa dari lokasi bencana yang bisa ia pinta pada-Nya agar anaknya segera sembuh.

Belum cukup sampai di situ, setelah melalui patah hati karena tidak bisa menemani anaknya di rumah sakit, sekerat daging di balik dada Langgeng kembali merasakan pedih. Rekannya meninggal dunia saat penanganan pascadarurat Jemblung. Saat itu ia bersama rekan kerjanya baru saja selesai melakukan evakuasi pencarian orang hilang di hutan. Pagi hari, korban berhasil mereka temukan. Tapi siang harinya, teman Langgeng meninggal di posko.

Diagnosis dokter pada waktu itu menyebutkan adanya penyakit jantung.

“Seakan tidak percaya, kami bersikeras melakukan resusitasi (respirasi artifisialis) jantung paru untuk memancing agar napasnya bisa ada lagi, biar hidup lagi, sampai dokter menyadarkan kami kalau rekan kami sudah gugur dalam tugas. Kami hanya bisa menangis,” katanya.

Menyesalkah Langgeng dan rekan-rekan lainnya menjadi sekadar relawan belaka?

“Kejadian demi kejadian yang telah dilalui, tidak menyurutkan semangat untuk bekerja sembari menolong sesama. Apa yang kami lakukan merupakan upaya untuk ikut mengabdi kepada Ibu Pertiwi,” tutupnya. (*/ZH)