Fokus Kerja, Ini 5 Prestasi Penting Pemerintahan Jokowi dalam 3 Tahun

Ilustrasi (Foto: setkab.go.id)

INFONAWACITA.COM – Tepat hari ini, Jumat (20/10), adalah tiga tahun Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Selama tiga tahun berjalan, sangat banyak capai-capaian yang dilakukan Kabinet Kerja di bawah pimpinan Presiden Jokowi.

Meskipun begitu, kritikan kepada Pemerintahan Jokowi juga cukup banyak. Jokowi meresponsnya dengan akan menjadikan kritikan sebagai bahan evaluasi untuk bekerja lebih baik. Kepada para menterinya di Kabinet Kerja, Jokowi juga meminta untuk fokus dalam bekerja.

“Saya minta semua menteri untuk fokus kepada pekerjaan saja. Itu karena mereka bekerja untuk rakyat, bukan untuk siapa siapa (lainnya),” ujar Jokowi dalam satu kesempatan. Hasil yang dicapai Jokowi pun tak main-main. Berikut lima capaian penting Jokowi dalam tiga tahun terakhir dalam berbagai bidang:

Ekonomi Tumbuh Positif: Dalam pernyataannya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Selasa (17/10) menyatakan, dari angka indikator makroekonomi selama tiga tahun, pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, pengangguran, gini ratio, semuanya positif.

Ilustrasi (Foto: dokumen)

Darmin menyebut, beberapa indikator makro yang menunjukkan ekonomi Indonesia dalam kondisi baik, antara lain pertama, pertumbuhan ekonomi. Dijelaskannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2013 ke 2014 mengalami perlambatan dari 5,56 persen bergerak ke bawah menjadi 5,01 persen.

Selanjutnya, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan menjadi 4,88 persen di 2015. Kemudian mulai membaik atau pulih di 2016 dengan capaian pertumbuhan 5,02 persen. Sementara hingga semester I-2017, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,01 persen dan targetnya sebesar 5,2 persen di 2017.

“Tadinya melambat, lalu mulai membaik dan menjadi lebih cepat lagi. Mudah-mudahan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini bisa mencapai 5,2 persen. Tentu saja semua ini tergantung ekonomi dunia,” Darmin dalam jumpa pers seperti dikutip dari liputan6.com.

Konektivitas Terus Meningkat: Salah satu hal yang selalu digembar-gemborkan Presiden Jokowi adalah pentingnya untuk meningkatkan konektivitas di negeri ini. Dalam pemerintahannya yang berjalan tiga tahun, sangat terasa peningkatan di bidang konektivitas itu.

Ilustrasi (Foto: tempo.co)

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi menjelaskan, konektivitas yang lebih baik ini tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan.

Highlight-nya Pak Jokowi-JK ini ingin melakukan pembangunan transportasi dengan mengejar ketertinggalan. Amanah ke saya adalah menciptakam konektivitas. Tapi lebih jauh lagi kami pastikan bahwa konektivitas kayak gimana, tapi yang bisa berfungsi dengan baik. Jadi sekarang ini sudah jauh lebih baik,” ucap Budi Karya, Selasa (17/10).

Di sektor udara, dia mencontohkan salah satunya adalah pengembangan Bandara Silangit, Sumatera Utara. Dulunya bandara ini hanya sebagai bandara perintis yang hanya didarati pesawat Susi Air tiga kali dalam satu minggu. Namun, bandara itu kini menjadi bandara internasional yang tingkat okupansi pesawatnya lebih dari 85 persen. Sementara banyak bandara-bandara lain di berbagai daerah juga dilakukan pengembangan.

Di sisi laut, upaya penurunan dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi salah satu tolak ukur. Dengan peningkatan kualitas infrastruktur pelabuhan dan waktu bongkar muat yang lebih rendah, menjadikan Priok kini disinggahi kapal-kapal besar. “Dengan demikian arus logistik lebih efisien,” ucap Budi Karya.

Tidak puas dengan Priok, saat ini pemerintah terus membangun berbagai infrastruktur seperti pelabuhan. Proyek terbesar saat ini adalah pembangunan Pelabuhan Patimban, Jawa Barat.

Sementara di sektor kereta api, semasa pemimpinan Jokowi-JK, banyak proyek yang dikerjakan, seperti jalur kereta di Sulawesi dan merevitalisasi beberapa jalur kereta demi memangkas waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain.

“Untuk di Jakarta sekarang juga sudah hampir selesai pembangunan MRT. Ini memang proyek dengan investasi triliunan rupiah, tapi bisa menghemat kerugian dari kemacetan yang ada di Jakarta,” katanya. Sedangkan di sektor darat, terbaru, Kemenhub telah menyerahkan beberapa bus ke pemerintah daerah di Magelang dan Tamanggung. Upaya ini dilakukan tidak terlepas dari untuk meningkatkan konektivitas di kedua wilayah itu.

Infrastruktur Berkembang Pesat: bidang infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama Jokowi. Sejumlah upaya pun dilakukan agar pembangunan infrastruktur bisa digenjot.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, upaya menggenjot pembangunan infrastruktur sudah dilakukan sejak Jokowi mulai menjabat. Hal itu ditandai dengan menggeser alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangunan infrastruktur.

Ilustrasi (Foto: tribunnews.com)

“Awal pemerintahan Pak Jokowi kita melihat tranformasi besar-besaran subsidi BBM menjadi pembangunan infrastruktur dan bansos. Belum satu tahun saya mengingat Presiden mulai berbicara melibatkan swasta dan BUMN di dalam membiayai infrastruktur,” jelas dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Setelah itu, tranformasi berlanjut dengan mengupayakan alternatif pembiayaan untuk infrastruktur. Salah satunya dengan sekuritisasi aset.

“Baru selesai satu tahun Presiden mengatakan yang membangun infrastruktur terutama BUMN, istilah beliau jangan dikekepin terus proyeknya, tapi disekuritisasi apa pun produknya, tanpa mengubah kepemilikan, ada dana masuk, sehingga bisa membangun infrastruktur lagi. Setelah dua tahun mendekati tiga tahun hari ini pecah telornya,” jelas dia.

Jalan tol yang dibangun mencapai 568 km. Total jalan secara keseluruhan mencapai 2.623 km. Sebanyak 39 bendungan dibangun. Jaringan irigasi mencapai 1 juta hectare. Tak hanya itu, total panjang seluruh jembatan yang dibangun selama masa pemerintahan Jokowi mencapai 30.000 meter. Untuk infastruktur listrik terdapat tambahan hingga 7.000 MW.

Investasi Meningkat, Pengangguran Turun: Sejumlah terobosan telah dilakukan, salah satunya di bidang investasi. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, realisasi investasi terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Tahun 2014 realisasi investasi Rp 463 triliun. Kemudian, berlanjut pada 2015 menjadi Rp 545 triliun, dan 2016 menjadi Rp 613 triliun. Realisasi investasi tahun ini ditargetkan Rp 678,8 triliun. Pada semester I 2017, realisasi investasi telah mencapai Rp 336,7 triliun.

Ilustrasi (Foto: Kementerian Bidang Perekonomian)

“Di bidang investasi tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK investasi naik 46 persen dari sebelumnya Rp 463 triliun per tahun menjadi sekitar Rp 678 triliun per tahun,” kata dia dalam keterangan pers yang dilansir dari liputan6.com, Selasa (17/10).

Realisasi investasi telah memunculkan jutaan lapangan kerja. Dari penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN), jumlah lapangan kerja yang terwujud mencapai 3,36 juta.

Data dari laporan kinerja tiga tahun pemerintah Jokowi menyebutkan, tingkat pengangguran mengalami penurunan sebesar 0,17% terhitung sejak Februari 2016 sampai Februari 2017. Tingkat pengangguran per Februari 2016 tercatat sebesar 5,33% atau sebanyak 7,01 juta orang.

Penciptaan lapangan kerja baru di sektor-sektor potensial terus didorong lebih optimal. Jika rinci, pada Agustus 2014 tingkat pengangguran berada di level 5,94%, lalu menurun ke level 5,81% pada Februari 2015, namun kembali naik ke level 6,18% di Agustus 2015.

Di tahun selanjutnya, tepat pada Februari 2016 tingkat kemiskinan turun ke level 5,5%, namun pada Agustus 2016 naik ke level 5,61%, dan pada Februari 2017 turun 0,17% ke 5,33%. Demikian dikutip dari detikfinance.com.

Angka Kemiskinan Turun: Data laporan kinerja tiga tahun pemerintah Jokowi juga mencatat, untuk angka kemiskinan hingga Maret 2017 terdapat penurunan kemiskinan sebesar 0,22% menjadi 10,64% dari September 2016 yang sebesar 10,7%.

Jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang atau 10,64% dari seluruh penduduk. Diperlukan program yang tepat sasaran dan tepat untuk terus menurunkan jumlah penduduk miskin.

Ilustrasi (Foto: The Jakarta Post)

Jika dilihat, sejak September 2014 tingkat kemiskinan sebesar 10,96%, lalu meningkat menjadi 11,22% pada Maret 2015, lalu kembali turun menjadi 11,13% di September 2015, lalu turun ke level 10,86% di Maret 2016, dan September 2016 turun menjadi 10,7%.

Sedangkan untuk ketimpangan pendapatan yang diukur dengan gini rasio juga mengalami penurunan menjadi 0,393 per Maret 2017, jika dibandingkan yang sebelumnya berada di posisi 0,394.(AR)