Demi Nyawa Murid, Guru Ini Rela Donorkan Ginjalnya

INFONAWACITA.COM – Mungkin kita sudah sering mendengar cerita tentang pengorbanan guru terhadap murid-muridnya. Mendidik anak didiknya dan menjadi orangtua kedua bagi mereka dengan sepenuh hati. Tak heran jika kemudian muncul label bagi para guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Tetapi kisah Jodi Schimdt ini adalah kisah istimewa seorang guru, mungkin lebih dari yang pernah kita bayangkan.

Natasha Fuller, seorang gadis cilik berusia 8 tahun, yang bersekolah di Oakland Elementery School, di Wisconsin, Amerika Serikat, hidupnya bisa dibilang tinggal menunggu keajaiban. Dia menderita Prune Belly Syndrome, suatu kondisi cacat lahir yang langka ditandai dengan masalah saluran kemih dan otot perut melemah. Natasha sudah menjalani sejumlah pemeriksaan dan saat itu masuk dalam daftar tunggu nasional untuk pasien yang menunggu donor ginjal.

Selama masa tunggu tersebut, Natasha tetap bersekolah paruh waktu dan menjalani hari-harinya seperti tidak mengalami sakit, kecuali beberapa kegiatan yang memang tidak bisa dia lakukan. Sampai di sini, Ny Schimdt tidak tahu masalah apa yang dihadapi muridnya. Sampai kemudian Ny Schimdt menemukan sebuah postingan di Facebook tentang status dari Keluarga Natasha yang memohon bantuan donor ginjal kepada siapapun yang bersedia.

Semua terjadi begitu cepat. Ny Schimdt dalam perjalanan pulang mengajar langsung mengambil keputusan bahwa dia akan menyelamatkan nyawa anak itu. “Saya tidak berpikir apa-apa waktu itu. Saya hanya merasa sangat terpukul dengan postingan itu dan segera setelahnya saya mengatakan kepada diri saya, oke…saya akan menjalani tes itu,” ujar Ny Schimdt seperti dikutip dari CNN.

Seperti sudah ditakdirkan, hasil tes Ny Schimdt ternyata cocok. Dia bisa mendonorkan ginjalnya kepada Natasha Fuller. Setelah menjalani serangkaian tes, akhirnya operasi transplantasi ginjal pun berhasil dilakukan.

Ny Schimdt dan Natasha berbagi moment terbaik mereka setelah operasi tersebut dengan saling bergandeng tangan. “Dia adalah bagian dari keluarga saya. Saya sangat mencintainya,” ujar Natasha.

Sebelum menjalani operasi transplantasi ginjal, Natasha tidak bisa melakukan hal-hal biasa yang dilakukan anak-anak pada umumnya. Dia juga tidak bisa berenang atau makan junk food. Sang guru penolong pun bahagia telah mendonorkan ginjalnya kepada sang murid. “Saya senang dia benar-benar sehat, bisa bertahan dan akan menghadapi masa depan yang cerah karena ginjal saya,” ungkap Ny Schimdt. (AR)