BRG Kembangkan Sistem GWL Demi Meminimalkan Resiko Karhutla

ilustrasi lahan gambut. foto: setkab.go.id

INFONAWACITA.COM – Badan Restorasi Gambut (BRG) mengembangkan sistem monitoring tinggi muka air gambut bernama Ground Water Level (GWL) sebagai upaya meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dengan sistem yang masih dalam ‘protoype’ ini, monitoring air di gambut dapat diketahui secara tepat dan cepat,” kata Deputi IV BRG Dr Harris Gunawan di Pekanbaru, Rabu (15/11).

Dia mengatakan GWL merupakan salah satu hasil penelitian dengan melibatkan lembaga riset dalam negeri maupun luar negeri.

GWL mulai diluncurkan sejak 17 Agustus 2017. Aplikasi itu dapat digunakan dengan mudah menggunakan ponsel pintar berbasis Android. Hanya saja, dia mengatakan aplikasi itu masih perlu disempurnakan dan akan diluncurkan pada 2018.

Dari pengamatan Antara, aplikasi tersebut terbilang cukup mudah untuk digunakan. Dalam aplikasi tersebut terdapat sejumlah pilihan di antaranya adalah angka tinggi muka air, kadar kelembaban gambut dan lainnya.

“Data itu akan kami sempurnakan dengan analisis satelit dan data spasial sehingga bia dilihat airnya, kelembabannya seperti apa. Data tersebut untuk mengetahui kerentanan gambut dan resiko kebakaran,” urainya.

Dia mengatakan saat ini BRG meggandeng sebanyak 13 perguruan tinggi se-Indonesia dalam upaya mengembangkan penelitan gambut. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman akademisi dalam mengelola gambut.

BRG menargetkan untuk merestorasi 80.000 hektare lahan gambut di delapan kabupaten di Provinsi Riau selama 2017. Restorasi lahan gambut yang akan direstorasi selama 2017 mencakup 11 kabupaten kota yakni Dumai, Siak, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hulu, Pekanbaru dan Kampar.

Riau merupakan satu dari tujuh provinsi prioritas restorasi oleh pemerintah melalui BRG. Secara nasional, tahun ini BRG menargetkan untuk merestorasi 400.000 hektare lahan gambut di tujuh provinsi di Indonesia. (ANT/HG)